Our Events

Our Events

Our Events

Our Events

Our Events

Fun Fresh Friendly

Smart Trainer of Fun Fresh Friendly Method

Showing posts with label THE POWER OF LOVE. Show all posts
Showing posts with label THE POWER OF LOVE. Show all posts

The Unconditional Love

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit.
Semakin hari semakin tidak ada kecocokan di antara kami. Kami  bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia  beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.
 
Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi  ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak  mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang  biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.
 
Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan  beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi  jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat  kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen  membuatku semakin kesal!
 
Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan  kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai  di rumah.
 
Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam  hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.
 
Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu,  buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku.
Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.
 
14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.
 
Hmm... aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.
 
6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra.
Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.
 
Jantungku serasa mau berhenti...
 
23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly.
Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui...
 
Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun.
Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan  Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan  memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen.
Aku sungguh tak menduga  kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.
 
4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, dia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.
 
Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah mengkhianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen  sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.
 
14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.
 
14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto.
Terima kasih, Tuhan!
 
18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.
 
7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian  di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di  sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.
 
Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku… tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.
 
15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk  Vincent.
 
Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.
 
Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun... "Maafkan aku, Ellen, aku mencintaimu.
Selamat ulang tahun..." (ts)

Peran Ibu Dalam Pengasuhan

Peranan Kaum Ibu
Terkait dengan pengasuhan anak, yang merupakan generasi penerus perjuangan bangsa, ada refleksi menarik dari Prof. Qurasih yang barangkali pas kita renungkan.
Kata ibu yang dalam bahasa betawi disebut "umi", bahasa Arab disebut "ummun", ternyata berasal dari akar kata yang sama dengan kata imam (leader) dan ummat (follower) - Lentara Hati, Mizan, 1994. 

Artinya apa? Kalau kita yakin tidak ada kebetulan yang kebetulan di dunia ini, bisa kita katakan bahwa sebetulnya ibulah yang paling dekat atau yang paling berperan vital atas lahirnya pemimpin bangsa atau atas kemajuan bangsa. Di kita sendiri, kata ibu juga kita pakai untuk menyebut hal-hal yang berperan vital atau induk dalam kehidupan, seperti ibu kota.

Beberapa kali saya mendengar pendapat kaum ibu dalam talkshow di radio atau acara yang mengangkat peranan kaum ibu. Sebagian ibu menyimpulkan, jika peran ayah terlalu lemah, atau terlalu kuat, atau bahkan tidak ada sama sekali, keluarga itu masih punya peluang untuk membentuk generasi yang baik, asalkan ibunya masih baik. Tapi bila ibunya yang tidak baik, maka peluang untuk melahirkan generasi yang baik
jadi lebih kecil. Begitu katanya.

Barangkali kesimpulan itu bisa saja dibilang subyektif dan tidak berlaku umum. Tapi setidak-tidaknya, kesimpulan semacam itu mengisyaratkan pengakuan betapa vitalnya peranan ibu dalam pengasuhan. Meski secara sosial dan kultural, peranan ibu lebih sering dinomerduakan atau menomerduakan dirinya, setidaknya bagi sebagian orang, tapi secara esensialnya, antara peranan ibu dan ayah tidak ada yang patut disebut nomor dua atau nomor satu.  

Di kajian psikologi, ada temuan menarik yang bisa kita pakai untuk mendudukkan peranan ibu dan ayah. Seperti yang dikutip  Philip G. Zimbardo, Scott, (1979), dalam bukunya Psychology & Life, ayah punya kontribusi besar untuk memprediksi keberhasilan anak di karier atau studi. Bahkan dinyatakan, peranan ayah lebih powerful ketimbang lembaga akademik.

Kalau ditarik benang merahnya, ibu berperan dalam memperkuat pondasi mental dan moral bagi perkembangan anak. Sementara, ayah berperan mengarahkan terbentuknya bangunan (konstruksi kepribadian) yang terkait dengan kompetensi akademik atau kompetensi profesi. Ini mungkin yang bisa menjelaskan, kenapa orang itu kalau memilih profesi atau pekerjaan kerap mereferensi figur ayah.  

Wilayah peranan ibu itu, kalau dijelaskan melalui temuan di bidang kompetensi manajemen, berada di wilayah yang disebut kepribadian inti (core personality). Cakupannya antara lain: nilai, bawaan, dan motif (mental attitude). Kepribadian inti termasuk bagian dari diri kita yang sulit diubah (vital, induk, pokok). Sedangkan wilayah peranan ayah berada di wilayah permukaan (surface) yang mudah diubah. Cakupannya meliputi: pengetahuan, informasi, atau skill.

Buktinya, kalau kita ingin mengubah pengatahuan atau skill seseorang, itu lebih possible (meski tidak mudah), ketimbang harus mengubah sikap mentalnya. Mengubah skill atau pengetahuan, bisa kita kursuskan atau di drill sendiri.
Tapi untuk mengubah sikap mental, cara ini tidak berlaku. Mengubah mental butuh pendekatan, keteladanan, kesabaran dan proses yang terus menerus.


Ibu & Kekerasan
Salah satu isu besar yang diangkat media selama tahun 2007-2008, terkait dengan ibu adalah kekerasan (dan mungkin kekejaman) dalam pengasuhan. Mudah-mudahan, dengan belajar dari kasus yang ada, momen Hari Ibu tahun ini bisa kita jadikan refleksi untuk mencegah itu terulang kembali di tahun berikutnya.

Selama tahun itu, telah terjadi praktek kekerasan dan kekejaman di sejumlah daerah. Ada yang menjual anak kandungnya ke hidung belang, membakar dirinya dan anaknya, membunuh, melakukan praktek yang mengakibatkan kematian dan kecacatan seumur hidup, dan lain-lain. Kak Seto, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, menyebutkan, sebagian besar kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Pada 2008, kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan oleh ibu kandung mencapai 9,27 persen. Sedangkan kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandung adalah 5,85 persen.


Apa Penyebabnya?
Apa yang menyebabkan seorang ibu melakukan perbuatan yang berlawanan dengan nalurinya sendiri? Dari pendapat sejumlah pakar yang dikutip media, baik cetak atau elektronik, bisa dicatat ada dua pendapat yang berbeda.

Pertama, pendapat yang menunjuk faktor eksternal sebagai sebab. Ini misalnya dikaitkan dengan kesusahan hidup yang semakin menghimpit.  

Dengan biaya hidup yang semakin mencekik, sementara usaha untuk meningkatkan penghasilan makin susah, dipandang sebagai sebab yang mengakibatkan seseorang mengalami stress. Jika stress itu terus menguat, akibatnya timbul depresi. Jika orang sudah depresi, maka orang itu akan gampang melakukan tindakan nekad yang di luar kontrol.

Ada lagi yang mengkaitkan itu dengan taraf pendidikan masyarakat yang masih rendah. Dengan pendidikan yang rendah, seseorang akan mudah menemui jalan buntu ketika menghadapi problem. Akhirnya, kebuntuan pikiran dan langkah itu mengakibatkan seseorang bertindak "bodoh". Sehingga tersulut oleh kenakalan anak sedikit saja langsung bereaksi kebablasan.

Pendapat dan contoh yang dikemukakan di atas ditampik oleh pakar lain. Katanya, meskipun itu benar, namun tidak bisa dijadikan pembenar. Benar memang kalau orang terhimpit ekonomi, orang itu akan stress. Tapi ini tidak bisa dijadikan pembenar untuk melakukan tindakan nekad. Dan lagi, masih banyak keluarga yang ekonominya bagus dan pendidikannya tinggi tapi masih melakukan kekerasan. Faktor ekonomi dan pendidikan tidak bisa dijadikan ukuran.

Kedua, ada pendapat yang menunjuk faktor internal sebagai penyebab. Ini kerapkali diarahkan pada lemahnya kapasitas internal seseorang dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang menyebut itu sebagai bukti dari lemahnya keimanan, lemahnya kontrol emosi, atau hancurnya mental dan harga diri bangsa ini.  

Kalau dilihat dari sisi manusia sebagai makhluk yang berinisiatif dan manusia sebagai makhluk yang bisa dipengaruhi, peranan faktor eksternal itu baru sebatas mempengaruhi atau memicu. Sedangkan peranan faktor internal itu sebagai penentu. Orang itulah yang berinisiatif untuk melakukan kekerasan, bukan faktor ekonomi atau pendidikan rendah.

Cinta Nurani & Cinta Nafsu
Dasarnya, memang semua orangtua, lebih-lebih ibu, pasti punya naluri untuk mencintai anaknya. Tapi, tidak semua cinta itu membuahkan perilaku positif. Kalau kita membelikan televisi  yang canggih dan nyaman supaya anak kita lebih lama nongkrong di depan televisi berjam-jam di kamar, belum tentu itu cinta yang positif. Sama juga dengan memanjakan anak berlebihan.

Dengan bahasa yang sederhana bisa kita katakan bahwa cintanya kita pada anak itu  dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: cinta nafsu dan cinta nurani. Cinta nafsu adalah rasa cinta yang digerakan oleh keinginan diri subyektif yang berlebihan atau yang melanggar apa yang benar, apa yang baik, dan apa yang bermanfaat. Sangat mungkin kekerasan itu terjadi karena cintanya kita masih di level nafsu; kita mencintai karena sebatas dorongan keinginan diri subyektif.

Bagaimana dengan cinta nurani? Nur artinya cahaya. Cinta nurani adalah cinta yang sudah mendapatkan cahaya bimbingan dari ajaran kebijaksanaan dan kebenaran, entah itu ajaran agama, ilmu pengetahuan,  atau ajaran kebenaran lainnya. Kita baru bisa mencintai anak secara nurani apabila sudah sanggup menundukkan nafsu subyektif kita di bawah nurani.


Privasi Pengembangan Diri
Banyak kaum ibu yang, entah sadar atau tidak, menghilangkan haknya untuk mengembangan diri setelah berkeluarga. Alasannya klasik. Selama 24 jam sehari, waktunya habis untuk mengurus anak, suami, dan keluarga. Menjadi ibu adalah rutinitas seperti lilin - memberi cahaya dengan cara  memupuskan dirinya.

Padahal, jika kita tidak meniadakan hak untuk mengembangkan diri, entah karena pilihan atau paksaan, akibatnya tidak kembali selain kepada kita. Secara alamiah, berhentinya aktivitas pengembangan diri bisa membuat dinamika diri jadi statis. Kalau diri yang merupakan gabungan dari dimensi lahir dan batin, jiwa dan raga, menjadi statis, maka kapasitas problem solving juga mentok, tidak ada perkembangan, tidak ada kreativitas, dan akibatnya hidup jadi terus berputar pada lingkaran sebab akibat yang sama. Tak heran jika hidup terasa bosan, hambar, susah, tidak merasa bahagia dan persoalan hidup kok terus itu-itu saja yang muncul.

Intinya, pengembangan diri terkait dengan kualitas hubungan kita dengan diri sendiri, orang lain (anak, suami, keluarga), dan keadaan. Pengembangan diri ini bisa dilakukan dari sekarang juga, terlepas apapun keadaannya. Beberapa hal mendasar dalam pengembangan diri itu antara lain:

·         Memunculkan dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Begitu kita sudah tak merasa butuh perbaikan, berhentilah pengembangan itu.
·         Memperbaiki strategi dalam menghadapi persoalan. Jika kita berpikir kekerasan itu sudah watak kita yang tak bisa diubah, maka kekerasan itulah yang terus kita lakukan. Padahal, semua bisa diubah.
·         Membaca materi yang bisa mencerahkan pikiran kita, membaca buku, majalah, tayangan, radio, dan lain-lain; bukan yang sekedar mengasikkan dan melupakan tanggung jawab
·         Memperbaiki pemahaman terhadap rutinitas  sehari-hari. Rutinitas itu bisa  membuat jiwa beku dan bisa membuat jiwa dinamis, tergantung pemahaman yang kita ciptakan.  
·         Memperluas kemampuan sosial untuk memperbaiki diri, belajar dari orang yang lebih baik dan orang yang lebih buruk, terutama dalam mendidik anak.
·         Meningkatkan komitmen terhadap nilai atau ajaran yang sudah jelas-jelas benarnya, baiknya, dan manfaatnya.
·         Menambah aktivitas positif, berkumpul dengan orang positif, dan untuk mencapai tujuan positif. Ini akan membuat
jiwa kita makin positif.

Apa semua ini terkait dengan kekerasan yang dilakukan oleh dan atau terhadap ibu? Apakah ini pun berpengaruh terhadap pengasuhan ke anak-anak? Kalau melihat teorinya, semakin seorang ibu  mendapatkan dan menggunakan haknya untuk menambah ilmu pengetahuan, belajar, bertumbuh, berkarya, bereksistensi, maka semakin luas pengetahuannya dan makin banyak ragam alternatif pendekatan dan tindakan yang bisa dipakai dalam menghadapi kompleksitas hidup. Dengan demikian, bukan hanya potensi kekerasan yang bakal tereduksi, tetapi malahan dapat meningkatkan kualitas ibu serta keluarganya secara umum.

Semoga bermanfaat.

GAJI PAPA BERAPA?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?", sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa segala? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. pingin tahu aja", ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri.
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
 
"Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur", perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya,
"Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis.  "Papa bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.  Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,-, lebih dari itu pun Papa kasih", jawab Andrew.
"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi....karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,- makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"

...Nice story...money is important but certainly not everything.. .

MAMAKU HANYA PUNYA 1 MATA

Mamaku hanya punya 1 mata, aku membencinya.. dia memalukan bagi aku. Dia memasak di SMP tempat aku sekolah untuk biaya hidup kami.
Hari itu dia datang ke kelas dan menyapaku. Aku sangat malu, lalu mengacuhkannya dan berlari pergi.

Keesokan harinya, teman2 mengejekku, ingin rasanya aku menghilang. Saat pulang, aku berteriak kepadanya "Kalau kau hanya ingin membuatku jadi bahan tertawaan, kenapa kau tidak mati saja ?!" Aku benar2 marah saat itu.

Aku bertekad keluar dari rumah itu dan tidak berhubungan dengan dia sama sekali. Jadi, aku belajar dengan semangat dan akhirnya mendapat beasiswa belajar di Singapura. Aku menikah, punya anak dan bahagia dengan kehidupanku.

Sampai suatu hari, Mama datang ke Singapura untuk menjenguk, saat di depan pintu, anak2 ku melihat dan ketakutan, saat itu juga aku berteriak "Beraninya kau datang ke rumahku, pergi dari sini, kau hanya menakuti anak2 !!" Dia terkejut dan menjawab "Maafkan saya, mungkin saya salah alamat"

Setahun kemudian, datanglah undangan reuni SMP. Aku hadir. Setelah itu, aku sempat melihat 1 rumah, dimana aku tinggal saat itu, hanya ingin tahu dan kata seorang tetangga mama sudah meninggal, aku tidak meneteskan air mata. Tetanggaku memberikan surat yang Mama ingin aku membacanya.

"Anakku tercinta, aku memikirkanmu setiap saat, Maafkan aku saat datang ke Singapura dan menakuti anak2 mu dan juga maafkan aku membuatmu malu didepan teman2 mu dulu.. Semoga kamu mengerti.. Waktu kecil kamu mengalami kecelakaan dan kehilangan 1 mata, sebagai Mama, aku tidak sanggup melihatmu tumbuh dengan 1 mata, jadi aku memberikan milikku.. Aku bahagia karena anakku akan memperlihatkan seluruh dunia untukku dengan mata itu..

From the book LOVE IN SILENCE

Makna Cinta

Suami
saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya
menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di
bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak..

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya
:
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.
Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok.." Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya..

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi
susu hangat yang bertuliskan ........"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.

Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya..

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

" Diposkan oleh youleeana
(renungan-harian) "

saat aku membacanya.. tetesan air mata ku mulai membasahi pipiku.....


makna yg aku ambil dari kata kata diatas adalah cintailah pasanganmu dg apa adanya.

jangan pernah mencintai pasangan karna fisik, karna harta, Cintailah dgn sepenuh hati tanpa harus membandingkan dgn yg lain krn aku bukan dia...Cintailah ketidaksempurnaannya dgn cara yg sempurna...
bahagialah dan beruntunglah orang orang yg telah dicintai & mencintai..
karna sesungguhnya tidak ada kata lain bagi cinta selain dicintai lebih baik dari pada mencintai. itu kalo menurut ku...
^_^
mungkin kalian punya pendapat lain tentang ini ?

Adakah orang yang Akan Mendoakan Kita?

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7
malam dirawat diRS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi
malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang
terbaring tak berdaya.


Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa
buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam
jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal
dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang......" kata si pengusaha ini
dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas
waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si
pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang
berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi
kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari
suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa
buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau
dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar
berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu
terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil,
putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di
pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu
kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap
akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku
tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku
tahu dia sudah mengkh ian ati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur
dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk
popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu.
Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami,
mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."


Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha
ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik.
Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari
betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat
waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang
luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10
menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu. Tapi mereka tidak
Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu
semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik.
Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah". Si pengusaha
tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat
dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia
menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di
kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi
sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku,
Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00". Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya, ”siapakah yang 47 orang itu”. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

”Bukankah itu Panti Asuhan?”, kata si pengusaha pelan. "Benar anakku, kau
pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu
tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik
perhatian pemerintah dan investor luar negeri"

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran
kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah
melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu,
pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat
berdoa buat kesembuhanmu. ".

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja padasaat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orangyang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dankita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoabuat orang lain.

Terima kasih

KEKAYAAN, KESUKSESAN DAN KASIH SAYANG

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia
melihat ada 3 orang pria yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak
mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kamiakan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telahkembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir
bersamaan.

"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria
itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria
berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil
memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang, coba Tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran.

"Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan." Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita." Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."

Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapakamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar.
Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."

JIKA AKU JATUH CINTA

Ya Allah…
Jika aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-Mu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Muhaimin…
Jika aku jatuh cinta, Jagalah cintaku padanya agar tak melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah…
Jika aku jatuh hati, Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu
Agarku tak terjatuh dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana…
Jika aku jatuh hati, Jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati…
Jika aku rindu, Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid dijalan-Mu.

Ya Allah…
Jika aku rindu, Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah…
Jika aku menikmati cinta kekasih-Mu
Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.

Ya Allah…
Jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu
Jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah…
Jika kau halalkan aku merindui kekasih-Mu
Jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah, Engkau telah mengetahui bahwa hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu, bersatu dalam dakwah pada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
 
(As-Syahid Syed Qutb)

Ibuku, Tangguh!

Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk kerikil," jelasnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan, "Tidak apa, cuma luka kecil kok," tenang ibu.

Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga - yang tak satu pun saya mengenalnya - membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk menawarkan jasa mengajar baca tulis Al-Qur'an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata, "Maaf, kami belum butuh guru mengaji." Tapi ibu tetap tersenyum.

Sejak perceraiannya dengan ayah, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya. Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini takkan pernah bisa kuukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis Al-Qur'an. Selepas isya' kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir jalan.

Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia?

Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki, sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu.

Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ia membangunkan kami.

Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya.

Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap?

Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, "Abang sudah besar, bantu ibu ya."
Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkeluh kesah?

Hikmah Cerita :
Ibu yang melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita dengan penuh cinta, tak pernah lelah dan berkeluh kesah demi kita, anaknya. Cintanya begitu tulus dan tak berharap balas. Segeralah kita beranjak dari duduk kita, ciumlah, peluklah ibu kita. Jika jauh, segeralah telepon dia, katakan, ”Aku sangat mencintaimu bu....engkaulah pijar kehidupan ini...”..

Ya Allah..... masih adakah diantara kami yang tidak membalas cintanya dengan tulus dan ikhlas? Meskipun dengan sekedar do’a dan senyuman untuknya?

Ya Allah.... masih adakah diantara kami yang sudah melupakannya dan menyia-nyiakannya? Sayangilah ibu kami, Ya Allah.... dengan sepenuhnya cintaMu dan hadirkan selalu kekuatan cinta pada kami, untuk ibu tercinta......

AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas”.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, " Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa temanku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah temanku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

TIGA CUCU LAHIR DARI RAHIM NENEK

Kamis, 13 November 2008, Tiga Cucu Lahir dari Rahim Nenek

CLEVELAND – Kasih Ibu memang benar-benar sepanjang jalan. Banyak contoh untuk itu, termasuk yang dilakukan Jaci Dalenberg. Demi putri tercintanya, Kim Coseno, Dalenberg yang sudah berusia 56 tahun rela menjadi surrogate mother atau ibu titipan dalam program bayi tabung.
Coseno tak bisa melahirkan setelah menjalani operasi saluran kemih atau hysterectomy. Tapi, dia masih bisa menghasilkan sel telur. Maka, bersama sang suami, Joe Coseno, Kim memilih program bayi tabung. Mengetahui hal itu, sang ibu, Dalenberg, langsung menawarkan rahimnya untuk ditanami bakal cucu.

Pada 31 Oktober lalu, saat usia kehamilan memasuki pekan ke-31, program itu berakhir bahagia. Dalenberg melahirkan bayi kembar tiga melalui operasi caesar. Ketiga penghuni baru planet ini tersebut diberi nama Gabriella Claire dan Carmina Ann, yang kembar identik, dan satu lagi Elizabeth Jacilyn. Ketiganya dilahirkan dengan berat badan rendah alias kurang dari 1,5 kg. Namun, kondisi ketiganya sehat.

Dalenberg mengaku deg-degan ketika pertama tahu bahwa dia mengandung tiga janin dalam rahimnya. "Kekhawatiran itu terjadi selama empat hari. Tapi, perasaan tersebut segera berlalu,'' kata Dalenberg kepada Associated Press Selasa lalu (11/11).

Usia Dalenberg yang sudah sepuh memang sangat rawan untuk menjalani kehamilan. Namun, demi cintanya kepada sang putri, dia rela melakukannya. Hari-hari kehamilan pun dilalui dengan pengawasan ketat atas kondisi kesehatannya. Bahkan, dia mengikuti tes psikologi.
Dr Robert Kiwi yang membantu proses kelahiran mengakui bahwa persalinan tersebut berisiko tinggi. Untuk memperkuat rahim sang ibu titipan, Kiwi harus menyuntikkan hormon.

"Kami harus bertindak dengan sangat cepat berdasar informasi yang kami miliki. Kini, ketiga bayi dalam keadaan baik," kata Kiwi.

Sebenarnya, kalau boleh memilih, Dalenberg lebih senang melahirkan secara normal. Tapi, dokter tidak mengizinkan. ''saya baik-baik saja,'' kata Dalenberg. ''Begitu tahu telah melahirkan, saya mau saja melakukannya lagi. Tapi tidak, ini sudah cukup. Saya tidak akan melakukannya lagi," imbuhnya, lantas tersenyum.

"Kami pun takkan melakukan hal ini lagi padanya," sambung Kim, yang juga tersenyum bahagia. (AP/Daily Mail/Telegraph/ dia/ttg)  


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites